Sejarah atau Asal Usul Khitan/Sunat

Share:

Khitan telah dilakukan sejak zaman prasejarah, diamati dari gambar-gambar di gua yang berasal dari Zaman Batu dan makam Mesir Purba. Alasan tindakan ini masih belum jelas pada masa itu tetapi teori-teori memperkirakan bahwa tindakan ini merupakan bagian dari ritual pengorbanan atau persembahan, tanda penyerahan pada Yang Maha Kuasa, langkah menuju kedewasaan, tanda kekalahan atau perbudakan, atau upaya untuk mengubah estetika dan seksualitas. Khitan pada laki-laki diwajibkan pada agama Islam dan Yahudi. Praktik ini juga terdapat di kalangan mayoritas penduduk Korea Selatan, Amerika, dan Filipina.

Khitan sudah disyariatkan sejak zaman Nabi Ibrahim. Diriwayatkan bahwa Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam bersabda :

“Nabi Ibrahim Khalilur Rahman berkhitan setelah umur delapan puluh tahun“ (H.R. Bukhari 6298 dan Muslim 370).

Berbagai referensi sejarah menunjukkan bahwa beberapa bangsa kuno telah mengenal khitan. Injil Barnabas menyebutkan bahwa Adam adalah manusia pertama yang dikhitan, dan ia melakukannya setelah betaubat dari dosa memakan buah pohon larangan. Mungkin, keturunan Adam berikutnya melupakan tradisi ini hingga Allah memerintahkan Nabi Ibrahim alaihis salam supaya menghidupkan kembali tradisi (sunnah) ini.

Telah ditemukan beberapa prasasti dari tanah yang berasal dari peradaban bangsa Babilonia dan Sumeria (3500 SM) yang menyebutkan praktik khitan secara terperinci. Pada makam Tutankhamun (2200 SM) juga ditemukan prasasti yang menggambarkan praktik khitan di kalangan raja-raja Fir‟aun. Prasasti teresebut menggambarkan bahwa mereka menggunakan balsam penghilang rasa sakit di kulup sebelum melaksanakan khitan, dan mereka melaksanakannya untuk tujuan kesehatan.

Menurut para antropolog, budaya khitan populer di masyarakat sejak masa pra-Islam, selain sudah tercantum pada kitab-kitab Samawi (Taurat dan Injil). Dibuktikan juga dengan ditemukannya mumi perempuan Mesir Kuno pada abad ke-16 SM. Mumi itu memiliki tanda clitoridectomy (tanda pemotongan klitoris pada wanita), dan ketika itu pelaksanaan khitan umumnya berlangsung di kawasan Sungai Nil, yakni Sudan, Mesir, dan Ethiopia. Karena itu sangat beralasan pula jika banyak para ahli mengatakan bahwa tradisi khitan telah diakui oleh agama-agama di dunia, seperti Yahudi dan sebagian penganut Kristen sejak lama. Dalam penelitian lain ditemukan pula bahwa khitan telah dilakukan bangsa-bangsa pengembara Semit, Afrika Timur, serta Afrika Selatan.

Pada masa Babilonia dan Sumeria Kuno, yakni sekitar tahun 3500 Sebelum Masehi (SM), mereka juga sudah melakukan praktik khitan. Hal ini diperoleh dari sejumlah prasasti yang berasal dari peradaban bangsa Babilonia dan Sumeria Kuno. Pada prasasti itu, tertulis tentang praktik-praktik khitan secara terperinci.

Tradisi ini juga sudah dikenal oleh penduduk kuno Meksiko, demikian juga oleh suku-suku bangsa Benua Afrika. Sejarah menyebutkan, tradisi khitan sudah berlaku di kalangan bangsa Mesir Kuno. Tujuannya, sebagai langkah untuk memelihara kesehatan dari kuman-kuman yang dapat menyerang alat kelamin, karena adanya kulup yang bisa dihilangkan dengan khitan.

Di Indonesia sendiri, sebenarnya telah ada jejak sejarah mengenai ini. Adanya benda kuno di Museum Batavia yang telah memperlihatkan penis yang telah dikhitan merupakan bukti konkrit telah adanya praktik khitan.

Sejarah atau Asal Usul Khitan/Sunat | Kaumhawa | 4.5

Berita Lainnya