Wasiat Untuk Calon Istri Sholehah yang Mengharapkan Surga

Wasiat Untuk Calon Istri Sholehah

Share:

Wasiat dan nasihat untuk orangtua kepada anak perempuannya agar menjadi istri yang sholehah. Siapa yang tidak ingin putrinya  menjadi istri yang sholehah untuk suaminya, karena itu surga untuk kedua orang tuanya. Hingga seorang suami jika memiliki istri yang sholehah pula padanya, karena itu adalah berkah dan nikmat yang tiada tara di dunia. Seperti wanita-wanita yang disebutkan dalam Al Quran. Berikut ini beberapa wasiat untuk calon istri sholehah, semoga nasihat ini bermanfaat.

wasiat istri sholehah

Nasihat untuk Istri Sholehah

Anas menyebutkan bahwasanya beberapa teman dekat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bila mempersembahkan ( menikahkan ) anak wanita pada calon suaminya, mereka memerintahkan kepadanya untuk berkhidmat pada suami serta selalu melindungi hak suami.

Pesan ayah pada anak perempuannya waktu pernikahan
Abdullah bin ja’far bin abu thalib mewasiatkan anak perempuannya, seraya berkata, “jauhilah olehmu perasaan cemburu, dikarenakan rasa cemburu yaitu kunci jatuhnya thalak. Juga jauhilah olehmu banyak mengeluh, dikarenakan keluh kesah menyebabkan kemarahan, serta sebaiknya anda menggunakan celak mata dikarenakan itu yaitu perhiasan yang sangat indah serta wewangian yang sangat harum”.

Pesan ibu pada anak perempuannya
diriwayatkan bahwa asma binti kharijah al-farzari berpesan pada anak perempuannya disaat pernikahannya, “sesungguhnya engkau sudah keluar dari sarang yang engkau menempati menuju hamparan yang tidak engkau kenali, juga menuju rekan yang engkau belum jadi rukun dengannya. Oleh dikarenakan itu jadilah engkau sebagai bumi baginya, maka dia dapat jadi langit untukmu. Jadilah engkau hamparan baginya, niscaya ia dapat jadi tiang untukmu. Jadilah engkau hamba sahaya baginya, maka niscaya ia dapat jadi hamba untukmu. Jangan sampai engkau meremehkannya, dikarenakan niscaya dia dapat membencimu serta jangan sampai menjauh darinya dikarenakan dia dapat melupakanmu. Bila dia mendekat kepadamu maka dekatkanlah dirimu, serta bila dia menjauhimu maka menjauhlah darinya. Jagalah hidungnya, pendengarannya, serta matanya. Jangan sampai ia mencium suatu hal darimu jika wewangian serta jangan sampai ia melihatmu jika engkau didalam situasi cantik. [1]

Pesan Amamah binti Harits pada anak perempuannya waktu pernikahan.
Amamah bin Harits berpesan kepda anak perempuannya ketika membawanya pada calon suaminya, “wahai anak perempuanku ! Bahwasanya bila wasiat ditinggalkan dikarenakan satu kelebihan atau keturunan maka saya menjauh darimu. Walau demikian wasiat adalah pengingat untuk orang yang mulia serta bekal untuk orang yang berakal. Wahai anak perempuanku ! Bila seorang wanita jadi cukup pada suami lantaran kekayaan ke-2 orang tuanya serta hajat ke-2 orang tua kepadanya, maka saya yaitu orang yang sangat jadi cukup dari seluruh itu. Walau demikian wanita diciptakan untuk lelaki serta laki-lakai diciptakan untuk wanita. Oleh dikarenakan itu, wahai anak perempuanku ! Jagalah sepuluh perkara ini.

  • Pertama serta ke-2 : perlakuan dengan karakter qana’ah serta mu’asyarah melewati perhatian yang baik serta ta’at, dikarenakan pada qan’aah ada kebahagiaan qalbu, serta pada ketaatan ada keridhaan tuhan.
  • Ketiga serta keempat : buat janji di hadapannya serta beritrospeksilah di hadapannya. Jangan sempat ia memandang buruk dirimu, serta jangan sempat ia mencium darimu jika wewangian.
  • Kelima serta keenam : perhatikanlah waktu makan serta tenangkanlah ia ketika tidur, dikarenakan panas kelaparan amat menyebalkan serta masalah tidur menyebalkan.
  • Ketujuh serta kedelapan : jagalah harta serta keluarganya. Karena kekuasaan didalam harta berarti pengaturan keuangan yang bagus, serta kekuasaan didalam keluarga berarti perlakuan yang baik.
  • Kesembilan serta kesepuluh : janganlah engkau sebarluaskan rahasianya, dan janganlah engkau langgar peraturannya. Bila engkau menyebarluaskan rahasianya bermakna engkau tidak melindungi kehormatannya. Bila engkau melanggar perintahnya bermakna engkau merobek dadanya. [2]

Bahwasanya keagungan baginya yang sangat besar yaitu kemuliaan yang engkau persembahkan untuknya, serta kedamaian yang sangat besar baginya yaitu perlakuanmu yang sangat baik. Ketahuilah, bahwasanya engkau tidak rasakan perihal tersebut, hingga engkau merubah keinginannya pada keinginanmu serta keridhaannya pada keridhaanmu ( baik pada perihal yang engkau sukai atau yang engkau benci ). Jauhilah memperlihatkan kebahagiaan di hadapannya bila ia tengah kuatir, atau memperlihatkan rasa sedih ketika ia tengah gembira.

Ketika Ibnu al-ahwash membawa anak perempuannya pada amirul mukminin ustman bin affan radhiyallahu ‘anhu, serta orang tuanya sudah memberinya nasihat, ustman berkata, “pondasi mana saja, bahwasanya engkau wanita dari suku quraisy, dikarenakan mereka yaitu wanita yang sangat pintar menggunakan wewangian dari pada engkau. Oleh dikarenakan itu perliharalah dua pengucapan : nikahlah serta gunakanlah wewangian gunakan air sampai wangimu layaknya bau yang ditimpa air hujan.

Ummu mu’ashirah menasihati anak perempuannya dengan nasihat seperti berikut ( sungguh saya membuatnya tersenyum bercampur sedih ) : wahai anakku.. Engkau terima untuk meniti hidup baru… kehidupan yang mana ibu serta bapakmu tidak memiliki area didalamnya, atau salah seorang dari saudaramu. Didalam kehidupan tersebut engkau jadi rekan untuk suamimu, yang tidak inginkan seorangpun turut campur didalam urusanmu, apalagi juga daging darahmu. Jadilah istri untuknya wahai anakku, serta jadilah ibu untuknya. Lantas jadikanlah ia rasakan bahwa engkau yaitu segala-galanya didalam kehidupannya, serta segala-galanya didunia.

Ingatlah senantiasa bahwasanaya lelaki anak-anak atau dewasa mempunyai kalimat manis yang lebih sedikit, yang bisa membahagiankannya. Jangan sampai engkau membuatnya berperasaan bahwa dia menikahimu menyebabkanmu jadi jauh dari keluarga serta sanak kerabatmu. Sebenarnya perasaan ini sama juga dengan yang ia rasakan, dikarenakan dia juga meninggalkan rumah orang tuanya, serta keluarga dikarenakan dirimu. Namun perbedaan pada dia serta anda yaitu perbedaan pada lelaki serta wanita, serta wanita senantiasa rindu pada keluarga serta area ia dilahirkan, berkembang, besar serta menimba ilmu dan pengetahuan. Walau demikian sebagai seorang isteri ia mesti kembali pada kehidupan baru. Dia mesti membangun hidupnya berbarengan lelaki sebagai suami serta perlindungannya, dan ayah dari anak-anaknya. Inilah duaniamu yang baru.

Wahai anakku, inilah kenyataan yang engkau hadapi serta inilah hari esokmu. Inilah keluargamu, di mana engkau serta suamimu bekerja bersama saat mengarungi bahtera rumah tannga. Adapun bapakmu, itu dulu. Sebenarnya saya tidak memintamu untuk melupakan bapakmu, ibumu serta sanak saudaramu, dikarenakan mereka tak lagi melupakanmu selamanya wahai buah hatiku. Bagaimana barangkali seorang ibu melupakan buah hatinya. Walau demikian saya memintamu untuk menyukai suamimu serta hidup bersamanya, serta engkau bahagia dengan kehidupan berumu bersamanya.

Seorang wanita berwasiat pada anak perempuannya, seraya berkata, “wahai anakku, janganlah anda lupa dengan kebersihan badanmu, dikarenakan kebersihan badanmu menambah kecintaan suamimu padamu. Kebersihan rumahmu bisa melapangkan dadamu, melakukan perbaikan hubunganmu, menyinari wajahmu hingga menjadikanmu senantiasa cantik, dicintai, dan dimuliakan di segi suamimu. Disamping itu disenangi keluargamu, kerabatmu, beberapa tamu, serta tiap-tiap orang yang lihat kebersihan badan serta rumah dapat rasakan ketentraman serta kesenangan jiwa”.

Dísálín dárí buku rísáláh ílál árusáín wá fátáwá áz-záwáz wá muásyárátu án-nísáá, edísí índonesíá pánduán práktís sertá fátwá perníkáhán, penulís ábu ábdurráhmán ásh-sháhíbí, penerbít nájlá press
_________
footenote
1. Áhkámu án-nísá kárángán íbnu ál-jáuzí períhál. 79
2. Áhkámu án-nísá kárángán íbnu ál-jáuzí períhál. 80

Advertisement
Wasiat Untuk Calon Istri Sholehah | Kaumhawa | 4.5

Berita Lainnya

Visit Koko Wijanarko at Ping.sg