Tes Keperawanan di Sekolah Bagi Siswi SMA Perlukah?

Tes Keperawanan di Sekolah Bagi Siswi SMA Perlukah?

Share:

Pemerintah kota Prabumulih Provinsi Sumatera Selatan merencanakan melakukan sebuah tes atau uji keperawanan untuk siswi tingkat sekolah menengah atas (sma). Seorang aktivis jurnalis dan novelis indonesia ayu utami berikan pandangan sekitar isu keperawanan yang menurut dia yaitu lambang ketidak adilan bagi kaum wanita.

tes keperawanan sma prabumulih

Tes keperawanan sma prabumulih

10 Poin Mengenai Tes Keperawanan Bagi Siswi SMA

Ada keruwetan yang terlihat sengaja dipelihara setiap saat masyarakat membicarakan keperawanan ini. Saya coba mengurainya sebagai berikut :

  1. Agama senantiasa menganjurkan perilaku seksual yang be responsible (bertanggung jawab). Ada yang tidak sepaham dengan ini ? Saya saja setuju bahwa saat berhubungan seks itu mesti bertanggungjawab serta baiknya terbatas. Memanglah perbedaan berlangsung pada derajat serta wujud tanggungjawab itu. Namun, saat ini, kita periksa sekurang-kurangnya tiga ajaran monoteis : adakah ayat yang mewajibkan tes keperawanan ? Saya berani katakan tidak. Pembuktian keperawanan yaitu praktik kebiasaan, bukan hanya agama.
  2. Terdapat banyak perihal baik didalam kebiasaan. Namun banyak juga yang amat jelek. Judi, mabuk, serta perbudakan, contohnya. Tes keperawanan dapat kita golongkan didalam perihal yang jelek. Pasti ada yang ajukan pertanyaan : kenapa ? Bukankah pembuktian keperawanan jadi alat kontrol untuk tingkah laku seks yang teratasi ?
  3. Apa benar tes keperawanan dapat melindungi tingkah laku seks ? Jawabannya tidak. Selaput dara saat ini dapat dipasang lagi kok ! Riset saja sedikit : banyak klinik sediakan pasang-ulang himen. Asal dapat bayar. Berarti, ketentuan keperawanan dapat membuat ekonomi cost tinggi serta yang miskin lebih menderita.
  4. Tetap menjawab pertanyaan point 3 : dari sisi tehnis, bila sesuatu ketentuan dapat ditegakkan, mesti ada alat ukur. Mesti ada “standar selaput dara” yang diibaratkan universal. Walau sebenarnya manusia tidak dapat distandarisasi jika dengan pelanggaran hak asasi yang gila-gilaan. Alat kelamin itu lain-lain, bung serta mpok ! Mempunyai cowok ada yang sedikit condong ke kanan ada yang ke kiri, mendongak atau menunduk. Serta cewek, ada yang dapat “ejakulasi” namun umumnya yang tidak, ada yang jadi mempunyai g-spot ada yang tidak. Tak ada standar ! Bagaimana kau akan berlaku adil didalam pembuktian keperawanan ?
  5. Untuk keadilan juga, ketentuan ini tidak adil karena cuma berlaku untuk wanita. Serta itu lalu didasarkan atas anggapan yang palsu : bahwa seluruh keperawanan wanita dapat dibuktikan. Tes keperawanan yaitu tindakan sewenang-wenang atas tubuh wanita, kata ayu utami
  6. Bila sesuatu aturan tidak berlaku setara pada seluruh orang, maka kita dapat lihat ideologi serta kekuasaan apa yang bermain di baliknya. Dengan gamblang kita lihat ideologi kekuasaan lelaki. Patriarki. Pria jadi subjek, wanita objek. Cermati : saat mendukung nilai ideal perihal tingkah laku seks yang baik, perempuanlah yang disuruh menanggung beban sangat berat ! Beban itu tidak dibagi rata, tetapi ditanggung oleh yang dikuasai.
  7. Tersebut yang saya sebut didalam otobiografi saya pernyataan eks parasit lajang sebagai “komodifikasi keperawanan”.
  8. Kita kembali pada nilai ideal yang diperjuangkan : tingkah laku seks yang bertanggungjawab. Saya tidak mempunyai keberatan sekalipun perihal seks mesti bertanggungjawab. Masalahnya, siapa yang perlu menanggung ? Siapa yang perlu berkorban ? Disinilah kita memperjuangkan penduduk yang baik serta adil untuk seluruh orang. Bila cuma wanita yang menanggung satu beban, itu tidak adil. Janganlah diteruskan. Lalu ?
  9. Orang terus dapat mengupayakan penduduk yang seksualitasnya lumayan teratur tanpa mesti menghasilkan ketidakadilan. Namun, cobalah pikirkan pertanyaan ini : anda lebih senang “menegakkan ketertiban sembari lakukan ketidakadilan”, atau “mencoba membangun ketertiban sembari memperjuangkan keadilan” ?
  10. Tes keperawanan yaitu sesuatu tindakan penghinaan martabat dikarenakan :
    • Membuat manusia wanita jadi objek― ;organ tubuhnya di check, diobok-obok, ditempatkan dibawah kuasa ;
    • Serta kuasa itu sewenang-wenang, karena mendasarkan diri pada kekuasaannya sendiri ( yakni anggapan palsu bahwa selaput dara dapat diukur serta jadi ukuran martabat wanita ) ;
    • Membuat wanita dapat dikomodifikasikan ( wanita dinilai serta diberi perlakuan menurut penilaian itu )
    • Pemerkosaan itu sendiri.

Sekali lagi, kita dapat membangun penduduk yang bertanggungjawab tentang seks tanpa mesti lakukan ketidakadilan. Justru hidupkan situasi kesetaraan jender sejak umur awal, hingga kecenderungan mengobjekkan serta mengkomodifikasikan wanita tak akan dominan, maka manusia dapat tumbuh jadi dewasa serta saling menghormati.

Advertisement
Tes Keperawanan di Sekolah Bagi Siswi SMA Perlukah? | Kaumhawa | 4.5

Berita Lainnya

Visit Koko Wijanarko at Ping.sg