Mitos Hal-hal Penyebab Puasanya Batal dalam Masyarakat

Mitos Hal-hal Penyebab Puasanya Batal

Share:

Berikut ini 7 sebab yang membatalkan puasa, benarkah atau hanya ucapak orang tua kepada anaknya untuk berbohong?

Saya menemukan situs yg menyebutkan daftar pembatal puasa. Apa itu benar?

Apakah Hal-hal ini Penyebab Batalnya Puasa

  1. Berbohong. Baik itu berbohong tentang Allah dan atau Rasulullah SAW maupun berbohong tentang segala hal
  2. Mencelupkan seluruh kepala ke dalam air dengan sengaja
  3. Dengan sengaja menghirup asap, baik itu asap rokok maupun asap yang lainnya
  4. Tidak mandi besar setelah ebrhubungan seksual hingga fajar atau tetap dalam keadaan junub hingga fajar
  5. Melakukan suntikan / injeksi dimana cairan – cairan dari suntikan tersebut bisa mencapai organ di dalam perut
  6. Dengan sengaja memasukkan suatu benda melalui pori – pori.
  7. Musafir yang melakukan perjalanan paling sedikit 8 farsakh atau sekitar 48 kilometer.

Jawab:

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala rasulillah, amma ba’du,

Satu kaidah baku yang perlu kita pahami baik-baik, bahapa saja yang membatalkan puasawa puasa adalah ibadah yang tata caranya telah dijelaskan syariat: mulai rukun, syarat, hingga pembatal, semuanya telah dijelaskan oleh syariat. Karena itu, kita tidak boleh mengatakan ada satu perbuatan pembatal puasa, kecuali berdasarkan dalil.

Ketika seseorang berpuasa, kemudian dia melakukan aktivitas kesehariannya, hukum asal puasanya adalah sah, kecuali jika kita mendapatkan bukti bahwa ada salah satu perbuatannya yang terhitung pembatal puasa.

Dari sekian daftar yang disebutkan, ada beberapa yang perlu kita rinci, sehingga kita bisa menyimpulkan apakah itu termasuk pembatal ataukah bukan. berikut 7 jawaban yang benar.

Apakah berbohong membatalkan puasa

Kita sepakat, bohong termasuk perbuatan dosa. Dan tidak semua perbuatan dosa yang dikerjakan seseorang menyebabkan puasanya batal.

bohong bikin puasa batal

Perbuatan dosa yang membatalkan puasa adalah perbuatan yang asalnya pembatal puasa, misalnya: minum khamr. Minum: membatalkan puasa, khamr: sumber dosa. Makan babi. Makan: membatalkan puasa, babi: penyebab dosanya. Dst. Sebaliknya, perbuatan dosa yang asalnya bukan pembatal puasa, tidak terhitung sebagai pembatal puasa. Meskipun bisa jadi ini menggugurkan pahala puasa pelakunya. Sebagaimana yang pernah dikupas di: http://www.konsultasisyariah.com/puasa-tanpa-pahala-buletin-ramadhan/

Berbohong: menyampaikan sesuatu yang tidak sesuai realita, adalah perbuatan yang pada asalnya tidak membatalkan puasa. Karena sebatas mengucapkan sesuatu, tidak menyebabkan puasa seseorang menjadi batal. Sebagaimana lelaki melihat wanita yang tidak menutup aurat (zina mata), juga tidak membatalkan puasanya.

Mencelupkan seluruh kepala ke dalam air puasa batal?

Kegiatan semacam ini bukan termasuk pembatal puasa. Karena membasahi badan dengan air, selama tidak sengaja menelannya, tidak membatalkan puasa. Bahkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah membasahi kepala beliau dengan air, karena kepanasan. Penaklukan kota Mekah, terjadi ketika bulan ramadhan. Ketika Fathu Mekah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan para sahabat untuk berbuka. Beliau bersabda,

تَقَوَّوْا لِعَدُوِّكُمْ

“Persiapkan kekuatan fisik untuk menghadapi musuh kalian.”

Namun beliau sendiri tetap berpuasa. Salah seorang sahabat mengatakan,

رَأَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِالْعَرْجِ يَصُبُّ عَلَى رَأْسِهِ الْمَاءَ، وَهُوَ صَائِمٌ مِنَ الْعَطَشِ، أَوْ مِنَ الْحَرِّ

Saya melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam di daerah ‘Arj, beliau menuangnkan air ke kepala beliau saat puasa, karena kehausan atau sangat panas. (HR. Ahmad 23223, Abu Daud 2365 dan sanadnya dishahihkan Syuaib Al-Arnauth).

Dan masih banyak dalil lainnya yang menunjukkan bahwa tindakan semacam ini, tidaklah mempengaruhi puasa seseorang.

Menghirup asap apakah puasanya batal?

Kita perlu membedakan antara menghirup asap rokok, dengan merokok.

Para ulama menyebut perbuatan ‘merokok’ dengan “syurbud dukhan” (minum asap). Mereka menyebutnya dengan “syurbun” (minum), karena dilakukan dengan cara intisyaq (menghisap). Kita semua sangat yakin, asap rokok sampai ke lambung dan ke perut. Sementara semua yang dimasukkan dan sampai ke perut dengan sengaja maka membatalkan puasa, baik benda itu bermanfaat maupun membahayakan.

Sebagaimana ketika ada orang yang menelan biji tasbih atau potongan besi dengan sengaja, puasanya batal. Tidak disyaratkan harus makan dan minum yang membatalkan puasa harus mengenyangkan atau memberi manfaat kesehatan. Setiap yang dimasukkan ke perut dengan sengaja maka bisa dinamakan makan atau minum. (simak Majmu’ Fatawa Ibnu Utsaimin, Fatawa Shiyam, no. 203 dan 204)

Berbeda dengan hukum menghirup asap. Orang yang masak, kemudian dia menghirup asap masakan, tidak menyebabkan puasanya batal. (Fatawa Syabakah Islamiyah, no. 892). Sebagaimana orang yang menggunakan parfum dan dia menghirup bau harumnya, dia tidak batal puasanya. Di masa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sudah banyak parfum, bahkan beliau menganjurkan orang yang jumatan untuk menggunakan parfum dan beliau tidak mengingatkan agar meninggalkan parfum ketika puasa. Ini dalil, mencium bau, atau menghirup asap, tidak membatalkan puasa.

Bagaimana dengan Dupa?

Ulama berbeda pendapat tentang dupa. Sebagian melarang orang yang puasa menghirup asap dupa, sebagian memakruhkan, dan sebagian membolehkan. Pendapat yang kuat, dibolehkan, sekalipun untuk kehati-hatian, sebaiknya ditinggalkan.

Belum mandi wajib / junub pembatal puasa?

Ini bukan pembatal puasa. Dalilnya, hadis dari Aisyah dan Ummu Salamah radhiallahu ‘anhuma; mereka menceritakan,

كَانَ يُدْرِكُهُ الْفَجْرُ وَهُوَ جُنُبٌ مِنْ أَهْلِهِ ، ثُمَّ يَغْتَسِلُ وَيَصُومُ

“Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memasuki waktu subuh, sementara beliau sedang junub karena berhubungan dengan istrinya. Kemudian, beliau mandi dan berpuasa.” (HR. Bukhari 1926 dan Muslim 1109)

Suntik saat puasa

Suntikan di siang hari Ramadan ada dua macam:

apakah suntik puasanya batal

  • Suntikan nutrisi (infus), yang bisa menggantikan makanan dan minuman. Suntikan semacam ini membatalkan puasa karena dinilai seperti makan atau minum.
  • Suntikan selain nutrisi, seperti: suntik obat atau pengambilan sampel darah. Suntikan semacam ini tidak membatalkan dan tidak memengaruhi puasa, baik suntikan ini diberikan di lengan atau di pembuluh. Hanya saja, jika memungkinkan, sebaiknya suntikan ini dilakukan di malam hari, dan itu lebih baik, sebagai bentuk kehati-hatian ketika puasa.

Keterangan selengkapnya bisa anda pelajari di: konsultasisyariah.com/suntik-di-siang-hari-ramadhan

Sengaja Memasukkan suatu benda melalui pori – pori

Kami tidak mendapat keterangan yang menunjukkan bahwa implantasi benda di tubuh manusia termasuk pembatal puasa. Karena implantasi benda di tubuh, tidak termasuk makan atau minum. Selain itu, sebagian ulama menegaskan bahwa suntikan obat tidak membatalkan puasa, dan itu lebih dari sekedar implantasi.

Melakukan perjalanan paling sedikit 8 farsakh

Ungkapan yang lebih tepat, melakukan safar yang membolehkan dia untuk qashar shalat.

Apakah Safar Membatalkan Puasa?

Ada sebagian ulama yang melarang berpuasa ketika safar. Dan jika tetap melakukan puasa ketika safar, puasanya tidak sah. Ini adalah pendapat Ibnu Hazm, sebagaimana yang beliau kupas panjang lebar di Al-Muhalla (4/402 – 403).

Sementara mayoritas ulama mengatakan, safar adalah sebab yang membolehkan seseorang mendapatkan keringanan untuk tidak puasa, dan bukan pembatal puasa. (Syarh Shahih Muslim, An-Nawawi, 7/229).

Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu pernah ditanya, tentang hukum puasa ramadhan ketika safar. Jawab Anas:

سَافَرْنَا مَعَ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي رَمَضَانَ، فَلَمْ يَعِبِ الصَّائِمُ عَلَى الْمُفْطِرِ، وَلَا الْمُفْطِرُ عَلَى الصَّائِمِ

“Kami pernah safar bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika ramadhan, orang yang puasa tidak mencela yang tidak puasa dan yang tidak puasa juga tidak mencela yang puasa.” (HR. Muslim 1118).

Dalam riwayat lain, Anas mengatakan,

كُنَّا مَعَ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي السَّفَرِ، فَمِنَّا الصَّائِمُ وَمِنَّا الْمُفْطِرُ

“Kami pernah melakukan safar bersama Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Ada diantara kami yang puasa dan ada yang tidak puasa.” (HR. Muslim 1119).

Dilarang Puasa jika Merepotkan

Dari Jabir bin Abdillah radhiyallahu ‘anhuma, beliau mengatakan,
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah melakukan safar. Kemudian beliau melihat ada orang kepayahan yang dikerumuni banyak sahabat, untuk diberi teduh. Beliaupun bertanya, ‘Apa yang terjadi dengan orang ini?’ Jawab sahabat: ‘Dia sedang puasa.’

Kemudian Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

لَيْسَ الْبِرَّ أَنْ تَصُومُوا فِي السَّفَرِ

“Bukan hal yang baik, seseorang berpuasa ketika safar.” (HR. Muslim 1115).

Hadis ini dipahami bahwa larangan itu berlaku ketika safarnya menyebabkan dia kepayahan dan merepotkan orang lain. (Syarh Shahih Muslim An-Nawawi, 7/233).

Allahu a’lam,

Ustadz Ammi Nur Baits

Advertisement
Mitos Hal-hal Penyebab Puasanya Batal | Kaumhawa | 4.5

Berita Lainnya

Visit Koko Wijanarko at Ping.sg