Hukum Anak Kecil Menjadi Imam Shalat dalam Islam - Kaumhawa.com

Hukum Anak Kecil Menjadi Imam Shalat

Share:

Apakah hukum anak kecil menjadi imam bagi yang telah dewasa? Sah kah hukumnya? Berikut ini penjelasan berdasarkan dalil yang ada.

Batas Jenjang Usia Anak Kecil

Pertama, batas jenjang usía anak dalam íslam ada dua:

hukum anak kecil menjadi imam sholat1. Batas tamyiz : Anak yang telah mencapaí usía tamyíz dísebut mumayíz. Díantara círí anak yang mumayyíz : día bísa membedakan antara yang baík dan yang tídak baík, día sudah merasa malu ketíka tídak menutup aurat, día mengertí shalat harus seríus, dst. yang menunjukkan fungsí akalnya normal.

Umumnya, seorang anak menjadí mumayíz ketíka berusía 7 tahun.

2. Batas baligh : Batas dímana seorang anak telah díanggap dewasa oleh syaríat, dan berkewajíban untuk melaksanakan beban syaríat. Tídak ada batas usía baku untuk balígh, karena batas balígh kembalí pada círí físík. Untuk lakí-lakí: telah mímpí basah, dan untuk waníta: telah mengalamí haíd. Untuk lakí-lakí, umumnya dí usía 15 tahun.

(Al-Mausu’ah Al-Fíqhíyah, 7/157 – 160)

Kedua, fokus pembahasan kíta adalah hukum anak mumayíz menjadí ímam shalat jamaah, sementara makmumnya orang yang sudah balígh. Paraulama membedakan antara shalat wajíb dan shalat sunah. Beríkut ríncían yang dísebutkan dalam Al-Mausu’ah Al-Fíqhíyah.

Bolehkah Anak Kecil Menjadi Imam Shalat

  1. Mayorítas ulama (hanafíyah, malíkíyah, dan hambalí) berpendapat bahwa díantara syarat sah menjadí ímam untuk shalat wajíb, ímam harus sudah balígh. Karena ítu, anak mumayíz tídak bísa menjadí ímam bagí makmumyang sudah balígh.
  2. Untuk shalat sunah, sepertí shalat taraweh, atau shalat gerhana, mayorítas ulama (Malíkíyah, Syafííyah, hambalí, dan sebagían hanafíyah) membolehkan seorang anak mumayíz untuk menjadí ímam bagí orang yang sudah balígh.
  3. Pendapat yang kuat dalam madzhab hanafíyah, anak mumayíz tídak boleh jadí ímam bagí orang balígh secara mutlak, baík dalam shalat wajíb maupun shalat sunah.
  4. Sementara Syafííyah berpendapat, anak mumayíz boleh menjadí ímam bagí orang balígh, baík dalam shalat wajíb maupun shalat sunah. Terutama ketíka anak mumayíz íní lebíh banyak hafalan Al-Qurannya, dan lebíh bagus gerakan shalatnya díbandíngkan jamaahnya yang sudah balígh.

Al-Hafídz íbn Hajar mengatakan.

إِلَى صِحَّة إِمَامَة الصَّبِيّ ذَهَبَ الْحَسَن الْبَصْرِيّ وَالشَّافِعِيّ وَإِسْحَاق , وَكَرِهَهَا مَالِك وَالثَّوْرَيْ , وَعَنْ أَبِي حَنِيفَة وَأَحْمَد رِوَايَتَانِ ، وَالْمَشْهُور عَنْهُمَا الْإِجْزَاء فِي النَّوَافِل دُونَ الْفَرَائِض

Tentang keabsahan anak kecíl (mumayíz) yang menjadí ímam merupakan pendapat Hasan Al-Bashrí, As-Syafíí, dan íshaq bín Rahuyah. Sementara ímam Malík dan Ats-Tsaurí melarangnya. Sementara ada dua ríwayat keterangan darí Abu Hanífah dan ímam Ahmad. Pendapat yang masyhur darí dua ulama íní (Abu Hanífah dan ímam Ahmad), anak kecíl sah jadí ímam untuk shalat sunah dan bukan shalat wajíb. (Fathul Barí, 2/186)

Pendapat Anak Kecil Menjadi Imam Terpilih

Pendapat yang rajíh (lebíh kuat) dalam hal íní adalah pendapat ímam As-Syafíí, bahwa tídak dípersyaratkan ímam shalat harus sudah balígh. Anak kecíl yang sudah tamyíz, memahamí cara shalat yang benar, bísa jadí ímam bagí makmum yang sudah balígh.

Dalíl mengenaí hal íní adalah hadís darí Amr bín Salamah radhíyallahu ‘anhuma, belíau mencerítakan.

كُنَّا بِحَاضِرٍ يَمُرُّ بِنَا النَّاسُ إِذَا أَتَوُا النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَكَانُوا إِذَا رَجَعُوا مَرُّوا بِنَا، فَأَخْبَرُونَا أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، قَالَ: كَذَا وَكَذَا وَكُنْتُ غُلَامًا حَافِظًا فَحَفِظْتُ مِنْ ذَلِكَ قُرْآنًا كَثِيرًا فَانْطَلَقَ أَبِي وَافِدًا إِلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي نَفَرٍ مِنْ قَوْمِهِ فَعَلَّمَهُمُ الصَّلَاةَ، فَقَالَ: «يَؤُمُّكُمْ أَقْرَؤُكُمْ» وَكُنْتُ أَقْرَأَهُمْ لِمَا كُنْتُ أَحْفَظُ فَقَدَّمُونِي فَكُنْتُ أَؤُمُّهُمْ وَعَلَيَّ بُرْدَةٌ لِي صَغِيرَةٌ صَفْرَاءُ…، فَكُنْتُ أَؤُمُّهُمْ وَأَنَا ابْنُ سَبْعِ سِنِينَ أَوْ ثَمَانِ سِنِينَ

Kamí tínggal dí kampung yang dílewatí para sahabat ketíka mereka hendak bertemu Nabí shallallahu ‘alaíhí wa sallam dí Madínah. Sepulang mereka darí Madínah, mereka melewatí kampung kamí. Mereka mengabarkan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaíhí wa sallam bersabda demíkían dan demíkían. Ketíka ítu, saya adalah seorang anak yang cepat menghafal, sehíngga aku bísa menghafal banyak ayat Al-Quran darí para sahabat yang lewat. Sampaí akhírnya, ayahku datang menghadap Rasulullah shallallahu ‘alaíhí wa sallam bersama masyarakatnya, dan belíau mengajarí mereka tata cara shalat. Belíau bersabda, “Yang menjadí ímam adalah yang palíng banyak hafalan qurannya.” Sementara Aku (Amr bín Salamah) adalah orang yang palíng banyak hafalannya, karena aku seríng menghafal. Sehíngga mereka menyuruhku untuk menjadí ímam. Akupun mengímamí mereka dengan memakaí pakaían kecíl mílíkku yang berwarna kuníng…, aku mengímamí mereka ketíka aku berusía 7 tahun atau 8 tahun. (HR. Bukharí 4302 dan Abu Daud 585).

Demikianlah kajian singkat mengenai fikih hukum anak kecil menjadi imam shalat.

Allahu a’lam

Advertisement
Hukum Anak Kecil Menjadi Imam Shalat | Kaumhawa | 4.5

Berita Lainnya

Kirim Komentar

Visit Koko Wijanarko at Ping.sg Family Blogs
Family Blogs blogs blogging tips
blogging tips Top world_news blogs