Recommended
mengencangkan payudara

Fikih | Najiskah Kencing Bayi

Category Fikih & Hukum, Ilmu by Kaumhawa

Kaidah pokok yang berlaku dalam masalah ini adalah

الحكم يدور مع علته وجوداً وعدماً

Hukum itu bergantung pada ada dan tidaknya ‘illah

hukum najis kencing bayi‘illah adalah segala sesuatu yang menyebabkan adanya hukum tertentu. Misalnya, wanita haid dilarang shalat. Adanya hukum ‘dilarang shalat’ karena adanya ‘illah berupa datang bulan. Ketika si wanita telah selesai haid, maka dia kembali wajib shalat, karena ‘illahnya sudah tidak ada.
Semacam juga berlaku untuk benda suci yang terkena najis. Baju atau kain suci yang terkena najis, statusnya menjadi najis, sehingga tidak boleh digunakan untuk shalat. Adanya hukum kain itu statusnya najis dan tidak boleh digunakan untuk shalat, karena adanya ‘illah berupa benda najis yang melekat di kain itu. Sehingga ketika benda najis itu telah hilang, maka kain itu kembali menjadi suci, karena ‘illahnya sudah tidak ada.

Imam Ibnu Utsaimin mengatakan,

إذا زالت عين النجاسة بأي مزيل كان، فإن المكان يطهر، لأن النجاسة عينٌ خبيثة، فإذا زالت زال ذلك الوصف وعاد الشيء إلى طهارته، لأن الحكم يدور مع علته وجوداً وعدماً

Apabila barang najis (yang menempel di benda suci) telah hilang dengan apapun caranya, maka benda itu kembali suci. Karena barang najis adalah barang kotor, sehingga ketika barang kotor ini sudah hilang maka sifat kotor pada benda (yang ketempelan najis) tersebut hilang, dan benda itu kembali suci. Karena setiap hukum bergantung kepada ada dan tidaknya ‘illah. (Majmu’ Fatawa wa Rasail Ibnu Utsaimin, jilid 11, Bab. Izalah An-Najasah).

Menghilangkan Najis tidak Butuh Amal Tertetu

Perbuatan yang dilakukan manusia, secara garis besar bisa dikelompokkan menjadi 2:

  1. Melakukan perintah (fi’lul makmur)
  2. Menjauhi larangan (ijtinabul mahdzur)

Hilangnya najis, termasuk jenis yang kedua, yaitu menjauhi larangan. Artinya, untuk menghilangkan najis, kita tidak diharuskan melakukan amal tertentu. Selama najis yang menempel di benda suci itu telah hilang, bagaimanapun caranya, maka status benda itu kembali suci. Dalil yang menunjukkan hal ini adalah hadis dari Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhuma, beliau mengatakan:

كَانَتِ الْكِلاَبُ تَبُولُ وَتُقْبِلُ وَتُدْبِرُ فِى الْمَسْجِدِ فِى زَمَانِ رَسُولِ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – فَلَمْ يَكُونُوا يَرُشُّونَ شَيْئًا مِنْ ذَلِكَ

“Dulu anjing-anjing sering kencing dan keluar-masuk masjid pada zaman Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Namun mereka (Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabatnya) tidak mengguyur kencing anjing tersebut.” (HR. Bukhari 174, Abu Daud 382, dan lainnya).
Pada hadis di atas, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam para sahabat menganggap suci semua tanah masjid, padahal bisa jadi ada anjing yang kencing di sana. Namun, mengingat najis itu sudah hilang karena menguap, mereka menghukumi tanah itu tidak najis.
Dalam Aunul Ma’bud dinyatakan,

وَالْحَدِيثُ فِيهِ دَلِيلٌ عَلَى أَنَّ الْأَرْضَ إِذَا أَصَابَتْهَا نَجَاسَةٌ فَجَفَّتْ بِالشَّمْسِ أَوِ الْهَوَاءِ فَذَهَبَ أَثَرُهَا تَطْهُرُ إِذْ عَدَمُ الرَّشِّ يَدُلُّ عَلَى جَفَافِ الْأَرْضِ وَطَهَارَتِهَا

Hadis ini menunjukkan dalil bahwa tanah yang terkena najis, kemduian kering karena terik matahari atau ditiup angin, sehingga bekas najisnya sudah hilang maka tanah itu menjadi suci. Karena, tidak diguyur air (pada hadis Ibnu Umar di atas), menunjukkan bahwa tanah itu telah kering, dan kembali suci.

Selanjutnya penulis mengatakan,

فَرُوِيَ عَنْ أَبِي قِلَابَةَ أَنَّهُ قَالَ جُفُوفُ الْأَرْضِ طُهُورُهَا

Diriwayatkan dari Abu Qilabah bahwa keringnya tanah, merupakan cara mensucikannya. (Aunul Ma’bud, Syarh Abu Daud, 2/31)

Imam Ibnu Utsaimin mengatakan,

وإزالة النجاسة ليست من باب المأمور به حتى يقال: لابد من فعله، بل هو من باب اجتناب المحظور

“Menghilangkan najis bukanlah termasuk suatu amalan yang diperintahkan, sehingga dikatakan, harus melakukan amal tertentu untuk menghilangkan najis. Namun, terkait najis, termasuk bentuk menjauhi larangan.” (Majmu’ Fatawa wa Rasail Ibnu Utsaimin, jilid 11, Bab. Izalah An-Najasah).

Oleh karena itu, kencing bayi yang menempel di pakaian anda sudah kering, sehingga dipastikan dengan yakin tidak ada lagi bekas air kencing yang menempel di baju tersebut maka pakaian anda kembali suci.

Allahu a’lam

Referensi Pencarian : bekas kaki anjing najis kah, najiskah kencing bayi umur 3bln?, hukum air kencing bayi 3bln, najiskah air kencing bayi usia 3 bulan, najiskah air kencing bayi, Najiskah kencing bayi usia 2 bulan, Hukum najis air kencing bayi umur 2 bulan, najis kah air kencing bayi umur 3 bulan, air kencing bayi umur 2bulan, air kencing bayi perempuan najis kah

Show Comments»
Recommended

Artikel Umum Lainnya

  • Tips Menghadapi Anak Yang Suka Pilih-Pilih Makanan
    Tips Menghadapi Anak Yang Suka Pilih-Pilih Makanan

    Sebagian orang tua kewalahan karena anak yang sukai menentukan makanan walau sekian anda tak sendiri, nyatanya demikian beberapa orang tua yang kewalahan dalam hadapi anak yang mempunyai rutinitas itu. Penentuan makanan yang...

  • Ingin Langsing Setelah Melahirkan
    Ingin Langsing Setelah Melahirkan

    Hasrat untuk kembali langsing sudah jadi dambaan banyak wanita. Tetapi hasrat untuk kembali langsing perlu perjuangan yang tidak mudah. Janganlah putus harapan dulu, anda ikuti panduan tersebut. Beragam langkah umumnya dikerjakan untuk...

  • Mengonsumsi Permen dan Coklat dapat Menimbulkan Sikap Agresif ke Anak
    Mengonsumsi Permen dan Coklat dapat Menimbulkan Sikap Agresif ke Anak

    Anak-anak yang senang memakan makanan manis serta coklat setiap hari, menurut penelitian di inggris waktu dewasanya seringkali lakukan kekerasan di banding anak yang jarang konsumsi makanan manis. Penelitian ini dikerjakan oleh cardiff...

best blogs
best blogs